Dialog Infinity: AFSI dan OJK Infinity Kolaborasi Jembatani Kesenjangan Talenta Digital Keuangan Syariah

Forum strategis ini mempertemukan regulator, industri, dan akademisi untuk menciptakan ekosistem pentahelix dan talenta yang siap kerja di era digital.

JAKARTA, 22 Oktober 2025 Kebutuhan talenta digital di Indonesia diproyeksikan terus meningkat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital. Namun, di tengah percepatan ini, sektor keuangan syariah menghadapi tantangan unik. Data dari Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII) menunjukkan saat ini terdapat 700 program studi ekonomi dan keuangan syariah di seluruh Indonesia. Potensi besar ini harus diimbangi dengan daya saing lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini.

Menjawab tantangan tersebut, AFSI didukung oleh OJK menyelenggarakan Dialog Infinity dengan tema “Menjawab Tantangan Talenta Keuangan Digital Syariah di Indonesia: Menjembatani Gap Edukasi dan Kebutuhan Industri”. Forum ini dirancang untuk menjadi jembatan strategis antara akademisi, industri, dan regulator.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif AFSI, Mahaning Riyana, menyampaikan visi dari diselenggarakannya dialog ini. “Harapan kami adalah terciptanya ekosistem pentahelix yang solid. Kami ingin mencetak talenta yang tidak hanya sekadar tahu digital, tetapi juga benar-benar siap kerja dan mampu menjawab kebutuhan industri secara langsung,” ujar Mahaning.

Dukungan penuh juga datang dari regulator. Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ludy Arlianto, menyoroti bahwa pengembangan talenta adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri saat ini. “Banyak ide dan inovasi generasi muda yang sangat oke telah dikumpulkan oleh OJK melalui berbagai program. Kami ingin agar semua ide dan inovasi ini dapat diwujudkan, tidak hanya berhenti sebagai gagasan,” tegas Ludy.

Ludy menambahkan bahwa OJK telah memiliki pipeline melalui OJK bidang Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan ​Aset Kripto (IAKD), yaitu 30 besar pemenang hackathon 2025 tahun depan akan masuk sandbox OJK, yang mencakup berbagai inovasi mulai dari keuangan hingga gov tech berbasis AI.

“Dalam roadmap IAKD, kami ingin mengatasi salah satu isu utama, yaitu gap talenta digital, termasuk memetakan kebutuhannya untuk 10 tahun ke depan. Inovasi hadir bersamaan dengan kebutuhan dan akan lebih cepat jika dibarengi dengan talenta yang mumpuni,” jelasnya.

Sesi panel diskusi menghadirkan pandangan langsung dari para praktisi industri dan akademisi. CTO dan Co-founder PT Privy Identitas Digital, Guritno Adi Saputra, menyoroti bahwa digitalisasi ekosistem keuangan Indonesia masih belum optimal dan sedang mengarah ke full digital. Ia menekankan pentingnya identitas digital untuk meminimalisir kejahatan, penipuan, dan sebagainya. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa talenta perlu diberi pemahaman juga soal regulasi industri, termasuk pemahaman tentang blockchain yang kini menjadi skill yang dicari.

Sementara VP Digital Strategy, Innovation & Customer Experience PT Bank Syariah Indonesia Tbk., Umi Kawiryani Tjiptoningsih, memaparkan data internal yang menunjukkan adanya perubahan perilaku transaksi nasabah, yaitu 98% kini beralih menjadi digital. Hal ini berdampak besar pada kebutuhan talenta. Dengan lebih dari 2.000 talenta IT dan digital yang didominasi oleh Gen Z dan milenial, BSI melihat bahwa inovasi digital telah membuka peluang lebih besar dan inklusif terhadap gelombang pencari kerja. Sebagai contoh, dalam pengembangan fitur dan menu, BSI juga membutuhkan lulusan dari jurusan perpustakaan yang mungkin tanpa digital akan sangat tidak relevan dengan sektor keuangan.

Umi juga menekankan pentingnya soft skill di era AI. “4C skills (critical thinking, creativity, communication, collaboration) adalah must-have. Ini berarti soft skill merupakan new stars yang harus menjadi perhatian universitas untuk membekali mahasiswanya,” tambahnya.

Menanggapi kebutuhan industri, Wakil Kepala Eksekutif Penelitian AFSI sekaligus dosen FEB Universitas Negeri Jakarta, Dr. Erika Takidah, memaparkan tantangan dari sisi akademisi. “Sering kali ada gap ketika terdapat regulasi maupun kebijakan baru dalam industri, kabarnya tidak sampai ke akademisi. Dengan adanya ratusan prodi ekonomi syariah, ini menjadi PR esensial bagi perguruan tinggi untuk memastikan lulusan eksyar punya daya saing, dan ini perlu sinergi yang kuat dari regulator, asosiasi, dan industri.”

Ia menjelaskan bahwa bagi universitas, meningkatkan kompetensi digital lebih kompleks. Contohnya, dalam pengembangan mata kuliah baru, perlu melalui workshop kurikulum bahkan sampai penyesuaian kompetensi dosen (sertifikasi dan sebagainya), sehingga perlu dukungan yang berkelanjutan dari ekosistem. Untuk itu, ia menyerukan reformasi besar-besaran agar kurikulum perguruan tinggi menjadi digital-minded, yang mencakup digitalisasi, sustainability, internasionalisasi, sertifikasi, kolaborasi, serta relevansi dan terkini.

Sebagai tindak lanjut konkret, forum ini juga memperkenalkan program AFSI Academic Partner (AAP) yang hadir dengan ragam program yang disesuaikan dengan kebutuhan akademisi dan industri, sebagai salah satu solusi untuk menjembatani kesenjangan yang ada secara berkelanjutan.

Dialog Infinity ini menegaskan bahwa kolaborasi berkelanjutan antara regulator, industri, dan akademisi adalah kunci untuk mengakselerasi lahirnya talenta digital keuangan syariah yang berdaya saing. 

-SELESAI-

 

MEDIA CONTACT
Contact: Adinda Lia Analia, Sr. Staf Komunikasi dan Pemasaran (Asosiasi Fintech Syariah Indonesia/AFSI)
Email: dinda@fintechsyariah.id