Jembatani Industri dan Akademisi, AFSI Perkuat Kompetensi Dosen lewat Training of Trainers dan Sertifikasi

Jakarta, 13 Oktober 2026 – Industri fintech syariah Indonesia terus menjadi salah satu yang terdepan di dunia. Global Islamic Fintech (GIFT) Report 2025/26 menempatkan Indonesia sebagai salah satu Leader Hub fintech syariah global, menduduki peringkat ke-4 dunia pada GIFT Index. Secara global, nilai industri ini diproyeksikan tumbuh dari USD 198 miliar pada 2024/25 menjadi USD 341 miliar pada 2029. Namun, pesatnya perkembangan ini belum sepenuhnya diimbangi kesiapan sumber daya manusia, khususnya di dunia akademik yang perlu terus mengejar laju perubahan, mulai dari pengetahuan praktis, regulasi terkini, hingga inovasi produk.

Menjawab tantangan tersebut, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) melalui AFSI Academic Partner (AAP) menggelar program Training of Trainers (ToT) dan Sertifikasi Kompetensi Fintech Syariah bagi Dosen. Program ini berlangsung pada 5–12 Oktober 2026 secara daring melalui Zoom, mencakup empat hari rangkaian pelatihan (5–8 Oktober) dan ujian sertifikasi kompetensi resmi AFSI (12 Oktober). 

Peserta dibekali delapan sesi materi, mulai dari bank digital syariah, fintech peer-to-peer (p2p) financing  dan securities crowdfunding syariah, innovative credit scoring, tokenisasi aset real world assets/RWA, aset kripto, hingga pemanfaatan blockchain untuk keuangan sosial syariah. Seluruh materi disampaikan langsung oleh delapan praktisi dan pemimpin industri fintech syariah. 

Pada penyelenggaraan kali ini, program diikuti oleh 71 peserta dari 30 instansi di berbagai wilayah Indonesia, dengan peserta terjauh berasal dari Aceh.

Ketua Dewan Pakar AFSI sekaligus Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, Sutan Emir Hidayat, Ph.D., menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap program ini.

“Perguruan tinggi punya posisi yang sangat strategis sebagai tempat lahirnya talenta, serta mendorong literasi dan inovasi. Melalui ToT batch 10 ini, kami mengapresiasi AFSI yang terus memperkuat kapasitas dosen. Kami berharap pengetahuan yang didapat bisa memberi dampak nyata lewat kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi dan mendukung penguatan ekosistem halal digital di Indonesia.”

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen AFSI Academic Partner sekaligus Koordinator Prodi S1 Ekonomi dan Keuangan Islam Universitas Negeri Jakarta, Erika Takidah, SE., Ak., M.Si., CA, Ph.D., menekankan pentingnya menjembatani industri dengan para pengajar.

“Tantangan terbesar dosen hari ini adalah mengikuti kecepatan industri, baik dari sisi praktik, regulasi, sampai inovasi teknologinya, terutama fintech syariah punya kompleksitas yang perlu dibedah secara mendalam. Lewat ToT dan sertifikasi ini, kami ingin memastikan jembatan antara industri dan kampus benar-benar terhubung, supaya ilmu yang diajarkan ke mahasiswa selalu relevan dan up to date.”

Antusiasme turut dirasakan langsung oleh para peserta.

“Mengikuti ToT fintech syariah ini sangat berharga bagi kami sebagai dosen. Materinya padat, aplikatif, dan langsung dari praktisi. Saya mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang penerapan prinsip syariah dalam model bisnis fintech, mulai dari akad, tata kelola, hingga regulasinya,” ujar Denia Maulani, S.E., M.M., dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Program ini merupakan batch ke-10 dari perjalanan panjang AFSI Academic Partner. Sejak 2022, AAP telah menjangkau 55 perguruan tinggi dengan lebih dari 2.000 peserta program pelatihan dan sertifikasi kompetensi fintech syariah, serta merangkul lebih dari 152 kerja sama penelitian dan telah menyalurkan 133 mahasiswa magang ke industri.

Melalui program ini, AFSI berharap para pengajar dapat menjadi agent of change yang membawa pengetahuan industri terkini ke ruang kelas, sehingga lahir talenta-talenta fintech syariah yang siap dan relevan dengan kebutuhan industri.

-SELESAI-